Piring kosong
serta sendok telentang terbuka adalah menusia yang terus memandang entah kemana
dengan mata kosong serta mulut ternganga bicara tanpa kata tanpa suara juga
tanpa makna pecahkan piring yang menyimpan wajah manusia itu hingga dalam belingnya
akan engkau temukan sesuatu sisa-sisa dari senyum serta pecahan-pacahan rindu
yang terluka dan bergelimang darah warna biru
Kumpulkan beling-beling itu dan
masukkan kedalam piring kosong, lalu kocok dengan sendok, pelan-pelan dan beri
segelas darah warna biru serta segenggam garam, kemudian masukkan ke buncahan
kuali kehidupan
Ambil matahari, beri bertungku
dengan karang rindu lalu tiupkan derap lewat buluh bambu dari sang waktu dan
kobarkan nyala dan ambil gendang terus berlagu serta dendangkan sesuatu yang
bernama harapan itu
Harapa adalah anak dalam pangkuan
merengek minta makan sementara piring masih kosong serta sendok
menggelinjangkan tarian memabukkan bersama angin dan sekian angan-angan yang
terus di serang demam, panas dan dingin bergantian
Asahlah pisau, kemudian tidur,
tapi usahlah sampai mengigau
Nah, tikamlah mimpimu! Dan
bangun! Dan usahlah meracau!
Kemudian tegakkan dan suruh
berjalan anakmu tanpa kilatan pisau tapi dengan rahman, rahim, dan iman
bergelora kilau kemilau!
Yang meregek adalah bayangan dari
kenangan dan kenyataan di kocok-kocok dengan kecepatan penuh serta
berkepanjangan sampai begitu kental kebanyakan garam, tetapi kekurangan cahaya
pasrah yang ikhlas dalam menumbuhkan harapan.
Siapakan yang meniupkan kehidupan
kalau bukan yang rahman?
Siapakan yag menaburkan harapan
kalau bukan yang rahim?
Siapakah yang menancapkan
kenyataan kalau bukan yan malik?
Sipakah yang rahman yang rahim
yang malik kalau bukan yang Khalik?
Maka cucilah piring sendokmu
dengan air zamzam nur yang rahman!
Dan isi piringmu dengan gandum
ranum mutu manikam yang rahim!
Dan gerakkan sendokmu dengan niat
mantap dalam kehendak yang Malik!
Kemudian hidangkan isian piring
sendokmu dalam haribaan yang Khalik!






















0 komentar:
Posting Komentar