jomblogwalking

RSS

JAWABAN UNTUK SANG PEMBANGKANG


 Hati Hasyim bagaikan kepala di sengat ribuan tawon. Perih dan sakit. Semua ini gara-gara johan, anaknya semata wayang. Sehabis menyelesaikan studinya di Eropa satu bulan yang lalu, ia sudah berbuat ulah. Memang johan berhasil memperoleh ijazah dengan predikat cum laudle alias memuaskan dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk memperoleh pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Namun, pandangan keagamaannya berubah. Sekarang ia tidak mau shalat, membayar zakat, apalagi menjalankan puasa. Dan hal inilah yang membuat Hasyim semakin bersedih, johan menjadi tidak percaya adanya Tuhan.
                “Tuhan itu harus bisa dirasionalkan. Kalau memang keberadaan-Nya tidak masuk akal, kita harus berani mengatakan bahwa Tuhan itu omong kosong,” ujarnya suatu ketika. Tidak bisa di hitung dengan jari, sudah berapa kiai, ustaz, cendekiawan, hingga profesor di datangi oleh Hasyim agar dapat menyadarkan anaknya. Tetapi mereka mampu bergeming ketika johan menyodorkan pertanyaan. “ kalau Tuhan memang
ada, mana buktinya?”
Di tengah kebimbanagn hati dan pikiran, sore itu Hasyim kedatangan sahabat lamanya di pesantren dahulu yang orang dusun, namanya sobari. Lantas, ia menceritakan problem yang menimpanya tersebut. Sobari manggut-manggut dan berjanji sekuat tenaga akan membuat johan kembali sadar.
Tak lama berselang, johan datang dari tempat kerja. Ia diperkenalkan oleh Hasyim kepada sobari. Segera saja ia hendak bersalam dengan sobari. Tetapi belum sampai tangan terulur, tiba-tiba sobari menamparnya. Plak! Hasyim dan johan terhenyak kaget. “ jangan marah dan terkejut. Itu adalah jawaban untuk pertanyaanmu tentang keberadaan Tuhan,” papar sobari.
Sambil memegang pipinya yang memerah, johan bertanay setengah gusar, “Mana buktinya?”
“Bagai mana rasanya setelah saya tampar?” tanya sobari.
“Tentu saja amat sakit,” jawabnya sambil terus memegang pipi.
                “Bisakah kamu menunjukkan kepada saya wujud sakit itu?”
“Tentu saja tidak dapat,” johan menjadi bingung.
“Demikianlah kebenaran Tuhan, kita tidak mampu melihat secara langsung kepada-Nya. Tetapi, kita mampu merasakan keberadaan-Nya. Salah satu bukti dari keberadaan itu adalah dengan diciptakannya alam semesta,” sobari menjelaska pajang lebar.



                Mendengar hal itu johan langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak keluar sampai larut malam tiba.
 Di keremangan fajar, sewaktu selesai salat subuh berjamaah di masjid, Hasyim terkejut melihat anaknya yang semata wayang itu khusuk berdoa sambil meneteskan air mata di pojok masjid. Tidak terasa, air mata Hasyim pun tumpah jua. Diarahkan pandangannya ke seberang jalan melihat rumahnya. Dari kejauhan ia melihat seberkas cahaya putih yang menyinari atap rumahnya. Seakan-akan, nur Ilahi telah kembali memancar menerangi rumahnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar