Hati Hasyim bagaikan kepala di sengat ribuan
tawon. Perih dan sakit. Semua ini gara-gara johan, anaknya semata wayang.
Sehabis menyelesaikan studinya di Eropa satu bulan yang lalu, ia sudah berbuat
ulah. Memang johan berhasil memperoleh ijazah dengan predikat cum laudle alias
memuaskan dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk memperoleh pekerjaan yang
menghasilkan banyak uang. Namun, pandangan keagamaannya berubah. Sekarang ia
tidak mau shalat, membayar zakat, apalagi menjalankan puasa. Dan hal inilah yang
membuat Hasyim semakin bersedih, johan menjadi tidak percaya adanya Tuhan.
“Tuhan
itu harus bisa dirasionalkan. Kalau memang keberadaan-Nya tidak masuk akal,
kita harus berani mengatakan bahwa Tuhan itu omong kosong,” ujarnya suatu
ketika. Tidak bisa di hitung dengan jari, sudah berapa kiai, ustaz,
cendekiawan, hingga profesor di datangi oleh Hasyim agar dapat menyadarkan
anaknya. Tetapi mereka mampu bergeming ketika johan menyodorkan pertanyaan. “
kalau Tuhan memang
ada, mana buktinya?”
Di tengah
kebimbanagn hati dan pikiran, sore itu Hasyim kedatangan sahabat lamanya di
pesantren dahulu yang orang dusun, namanya sobari. Lantas, ia menceritakan
problem yang menimpanya tersebut. Sobari manggut-manggut dan berjanji sekuat
tenaga akan membuat johan kembali sadar.
Tak lama
berselang, johan datang dari tempat kerja. Ia diperkenalkan oleh Hasyim kepada
sobari. Segera saja ia hendak bersalam dengan sobari. Tetapi belum sampai
tangan terulur, tiba-tiba sobari menamparnya. Plak! Hasyim dan johan terhenyak
kaget. “ jangan marah dan terkejut. Itu adalah jawaban untuk pertanyaanmu
tentang keberadaan Tuhan,” papar sobari.
Sambil
memegang pipinya yang memerah, johan bertanay setengah gusar, “Mana buktinya?”
“Bagai mana
rasanya setelah saya tampar?” tanya sobari.
“Tentu saja
amat sakit,” jawabnya sambil terus memegang pipi.
“Bisakah
kamu menunjukkan kepada saya wujud sakit itu?”
“Tentu saja
tidak dapat,” johan menjadi bingung.
“Demikianlah
kebenaran Tuhan, kita tidak mampu melihat secara langsung kepada-Nya. Tetapi,
kita mampu merasakan keberadaan-Nya. Salah satu bukti dari keberadaan itu
adalah dengan diciptakannya alam semesta,” sobari menjelaska pajang lebar.
Mendengar
hal itu johan langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak keluar sampai larut malam
tiba.
Di keremangan fajar, sewaktu selesai salat
subuh berjamaah di masjid, Hasyim terkejut melihat anaknya yang semata wayang
itu khusuk berdoa sambil meneteskan air mata di pojok masjid. Tidak terasa, air
mata Hasyim pun tumpah jua. Diarahkan pandangannya ke seberang jalan melihat
rumahnya. Dari kejauhan ia melihat seberkas cahaya putih yang menyinari atap
rumahnya. Seakan-akan, nur Ilahi telah kembali memancar menerangi rumahnya.






















0 komentar:
Posting Komentar